/data/photo/2019/07/26/5d39f0a6799b9.jpg)
JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah negara di dunia tengah mengalami krisis energi, baik di Eropa seperti Inggris maupun di Asia seperti China. Krisis energi tersebut pada akhirnya menyebabkan krisis listrik.
Tingginya permintaan energi seiring dengan pemulihan ekonomi, namun tak dibarengi dengan ketersediaan pasokan yang memadai, membuat harga gas alam dan batu bara melonjak. Kedua komoditas ini menjadi bagian dari sumber pembangkit listrik.
Krisis energi yang melanda Inggris sampai membuat banyak pabrik harus menutup operasionalnya lantaran mahalnya harga gas dan listrik. Sebagian besar industri di Inggris memang mengandalkan gas alam dan listrik dalam produksi mereka.
Baca juga: Siap-siap, PLTU Batu Bara Kena Pajak Karbon mulai April 2022
Sementara di China, krisis energi telah menyebabkan keterbatasan daya listrik di negara tersebut. Pemadaman listrik pun terjadi di beberapa provinsi di China sehingga menyebabkan aktivitas warga dan operasional bisnis terganggu.
Lalu bagaimana dengan kondisi pasokan listrik di Indonesia?
PT PLN (Persero) memastikan pasokan listrik andal dan mencukupi di tengah mulai kembalinya aktivitas masyarakat.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email
Pada wilayah Jawa, Madura dan Bali (Jamali) bahkan pasokan lisitrik berlebih seiring dengan mulai beroperasinya sejumlah pembangkit di proyek 35.000 megawatt (MW),
Hal itu diungkapkan oleh Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini saat mengunjungi PLTU Suralaya, Banten pada Selasa (12/10/2021) lalu.
Menurutnya, daya mampu sistem kelistrikan Jamali mencapai 38.522 MW dengan beban puncak 26.931 MW. Itu berarti ada cadangan daya sebesar 11.591 MW di sistem kelistrikan Jamali.
"Sistem kelistrikan Jamali siap untuk dukung pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Zulkifli seperti dikutip dalam keterangannya, Kkamis (14/10/2021).
Ia mengatakan, PLN siap melayani kebutuhan seluruh masyarakat, baik pelanggan rumah tangga, industri, bisnis, maupun investor yang ingin menanamkan modal ke Indonesia.
Zulkifli mengungkapkan, mulai kembalinya aktivitas masyarakat terlihat dari tumbuhnya konsumsi listrik mencapai 4,42 persen menjadi 187,78 terawatthour (TWh) hingga September 2021 (year on year/yoy).
Hal ini membuat perseroan memproyeksikan penjualan listrik PLN bakal terus meningkat menembus 252,51 TWh hingga akhir 2021, atau tumbuh 4,71 persen dibandingkan tahun lalu.
Selain itu, mulai menggeliatnya ekonomi juga ditandai dengan pertumbuhan sektor industri yang mencapai 10,63 persen pada kuartal III-2021.
Menurut Zulkifli, dengan melimpahnya pasokan listrik, PLN bisa dengan leluasa melayani seluruh kebutuhan pelanggan seiring dengan peningkatan aktivitas ekonomi yang terjadi di Indonesia.
Ia bahkan mengajak masyarakat untuk ikut membangkitkan perekonomian nasional dengan mengoptimalkan penggunaan listrik dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Harga Batu Bara Acuan Oktober Tembus 161,63 Dollar AS Per Ton
"Tak hanya mendukung listrik rumah tangga, industri, komersial, kami juga siap memasok listrik untuk mobil listrik, kompor induksi hingga memasok listrik ke para petani, peternak, hingga nelayan melalui Program Electrifying Agriculture dan Electrifying Marine," ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Bisnis Regional Bagian Jamali PLN, Haryanto WS menambahkan, pihaknya memastikan seluruh pembangkit yang memasok kebutuhan listrik, khususnya di Jamali, bisa beroperasi optimal.
Ia bahkan meyakini tidak akan ada pemadaman sekecil apapun agar investor semakin percaya diri untuk mengembangkan usahanya.
"Kami pastikan semua andal dan tidak ada pemadaman sedikit pun. Untuk menarik investor makin banyak agar menyerap listrik dari pembangkit yang sudah kita bangun," ujar Haryanto.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.https://news.google.com/__i/rss/rd/articles/CBMifWh0dHBzOi8vbW9uZXkua29tcGFzLmNvbS9yZWFkLzIwMjEvMTAvMTQvMDczMjAwODI2L3NlanVtbGFoLW5lZ2FyYS1kaWxhbmRhLWtyaXNpcy1lbmVyZ2ktYmFnYWltYW5hLWRlbmdhbi1pbmRvbmVzaWEtP3BhZ2U9YWxs0gF3aHR0cHM6Ly9hbXAua29tcGFzLmNvbS9tb25leS9yZWFkLzIwMjEvMTAvMTQvMDczMjAwODI2L3NlanVtbGFoLW5lZ2FyYS1kaWxhbmRhLWtyaXNpcy1lbmVyZ2ktYmFnYWltYW5hLWRlbmdhbi1pbmRvbmVzaWE?oc=5
2021-10-14 00:32:00Z
CBMifWh0dHBzOi8vbW9uZXkua29tcGFzLmNvbS9yZWFkLzIwMjEvMTAvMTQvMDczMjAwODI2L3NlanVtbGFoLW5lZ2FyYS1kaWxhbmRhLWtyaXNpcy1lbmVyZ2ktYmFnYWltYW5hLWRlbmdhbi1pbmRvbmVzaWEtP3BhZ2U9YWxs0gF3aHR0cHM6Ly9hbXAua29tcGFzLmNvbS9tb25leS9yZWFkLzIwMjEvMTAvMTQvMDczMjAwODI2L3NlanVtbGFoLW5lZ2FyYS1kaWxhbmRhLWtyaXNpcy1lbmVyZ2ktYmFnYWltYW5hLWRlbmdhbi1pbmRvbmVzaWE
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Sejumlah Negara Dilanda Krisis Energi, Bagaimana dengan Indonesia? - Kompas.com - Kompas.com"
Post a Comment